Islam Agama Ku
- account_circle Andim H. Muazhim
- calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
- visibility 22

Belakangan ini (sejauh yang saya tau), pembahasan mengenai agama sangat terasa tabu. Kita saat sedang dalam kerumunan seakan tidak saling peduli perihal menganut agama apa. Bahkan terkadang identitas keagamaan yang kita gunakan dalam berpakaian (seperti jilbab/sorban) seakan samar. Hingga tidak dapat digunakan untuk menginterpretasikan yang mengenakanya, mengakibatkan keliruan kita saat menilai.
Aslinya saya pun sama, mengabaikannya pada saat membuat kerangka website ini. Jadi kejadianya begini, Saya sedang menyusun tema, membolak balik urutan halamanya, hingga bongkar pasang diksi. Sampai disaat saya menganggap selesai, tapi spidol di tangan terasa tidak ingin dilepaskan. Seakan masih ada yang ingin ditulis, rasanya seperti kurang lengkap. Sampai pada pertanyaan “apa manfaatnya ini untuk agamamu ?” ternyata pas saya baca ulang, kategori yang saya tuliskan belum ada ruang religion.
Untuk menyempurnakan katagori tersebut, tercetuslah kata ISLAM kemudian jadilah ia sebagai salah satu katagori di web ini. Walau seharusnya lebih tepat nama kategorinya adalah religi, tapi karena yang nulis baru saya saja. Jadi ya sudah menggunakan nama agama saya saja, toh itu jadi bisa membangun konteks kepada audiens. Hingga terciptalah citra diri yang berasal dari penilaian orang lain.
Setau saya setiap agama, ada perintah & anjuran untuk berdakwah atau mempromosikan / mempopulerkan kepercayaan yang dipeluknya. Seperti misal ada tulisan yang memuat kata, puji tuhan, alhamdulillah dan semacamnya. Selain itu sebagai bentuk identitas, menurut saya itu juga bentuk dakwah. Dulu saya merasa risih jika membaca tulisan yang penulisnya menonjolkan identitas keagamaan, apalagi agamanya berbeda dengan saya. Ternyata setelah saya intropeksi diri, ditemukan bahwasanya saya yang salah.
Kini saya sudah tidak lagi mempermasalahkan narasi “kebisingan” agama lain. Poin kesalahan yang saya temukan pada diri saya dulu adalah, bahwasanya ke imanan saya sangat-sangat tipis. Hingga saya merasa terganggu dengan aktifitas simbolik agama lain. Untuk mempertebalnya, kiat yang saya lakukan adalah meletakan keimanan benar-benar didalam hati. Hingga membuatnya aman dan sulit untuk tertembus. Karena setiap pemeluk agama berhak untuk mendakwahkan keimanannya, maka jaga apa yang diyakini. Agama bukanlah paksaan, agama adalah kerelaan dan hidayah itu pemberian dari tuhan semesta alam.
Demikian cerita pembuka dari rubrik, Islam ini. Terimakasih telah selesai membacanya. Semoga beruntung & bermanfaat.
Andim H.M – 07/01/26
Penulis Andim H. Muazhim
Terimakasih sudah membaca tulisan yang sederhana ini. Masih terus belajar dalam banyak hal jadi sering banget nulis karena kepala sumpek dipenuhi gagasan yang bertabrakan. Sebelumnya menulis dengan pena di kertas yang dikenal dengan diary. Kini saya alihkan di media publik, maksudnya biar bisa lebih bermanfaat. Tapi nyatanya baru segini aja kemampuannya.

Saat ini belum ada komentar