Kuterima Dengan Bangga
- account_circle Andim H. Muazhim
- calendar_month Senin, 13 Apr 2026
- visibility 13

Kuterima Dengan Bangga.
Katanya nih, hidup tuh bagai roda yang berputar, kadang diatas kadang dibawah. Benar, bagi orang yang ingat setiap momen perjalanan hidupnya. Ketika dia lagi diatas bersyukur, saat ditengah binggung dan ketika dibawah Frustrasi. Karena ternyata ban-nya bocor, jadi pas dibawahnya lama banget. Mau ganti ban, serepnya gak ketemu dan mau nambel jauh mesti dorong dulu. Ampun gak sih kalau anloginya seperti itu. Sejauh yang gue tau ada aja segelintir dari kita berujar.
Mana roda berputar, gue kayaknya di bawah mulu.
Menurut gue bisa jadi dia lupa. Rodanya udah muter cuma pas di atas durasinya cepet, langsung balik ke bewah lagi dan saat di bawah berat mau muter lagi ke atas. Mungkin begitu kali ya kalau dianalogikan. Tapi emang, gue nih kalau kondisi lagi sumpek bawaanya nyalahin keadaan, nyalahin orang bahkan sering nih gue marah sama tuhan. Aslinyakan gak boleh ya marah ama tuhan, emang kita bisa apa ngelawan tuhan?
Disini poin utamanya bukan tentang roda, tapi tentang perjalanan yang ingin gue kenang. Ditahun 2025 gue telah mencapai kesuksesan dalam bisnis. Bisnis yang telah gue rintis 5 tahun lamanya bersama teman-teman, tahun lalu bisnis tersebut dinyatakan sukses, ditutup. Terdengar ironi ya, tapi beneran sukses ditutup, walau belum 100% rapet nih nutupnya sampai tulisan ini gue tulis, tapi ya sudah seleai. Binis itu bergerak di industri repair mesin produksi, atau jasa perawatan berkala dari mesin produksi pabrik. Gue memutuskan menutup bisnis itu karena teman bisnis gue yang menjadi tenaga ahli memutuskan untuk mundur / pecah kongsi dari bisnis kita ini.
Gue menganggap perjalanan bisnis itu sebagai perjalanan spritual hidup. Gue juga menganggap gue adalah pebisnis sukses, karena sudah banyak bisnis yang sukses ditutup. Yang lain melihat ini dari sisi negatif, tapi gue bisa melihat ini dari sisi positif. Percaya atau gak dari semua yang pernah gue lalui, gue punya pemahaman, pemaknaan dan pengalaman dari setiap hal yang gue jalani. Terutama dalam bisnis, gue tau cara buka bisnis, gue paham cara nutup bisnis, gue bisa making profit juga saat ini, gue jadi bisa merasakan pola dari permainan bisnis. Karena setiap kesusesan itu ada polanya, bisa dilihat dirasakan & dipelajari.
Bisnis yang menjadikan gue seperti ini, dari bisnis juga yang mengantarkan gue ketitik ini. Jadi mengapa harus merunduk saat menceritakan “kegagalan,” mestinyakan bangga atas pencapaian tersebut. Ya memang, bisa bangga jika ada pembelajaran yang dipahami untuk dibagi atau dikonsumsi sendiri. Bisnis yang gue buka memang belum ada yang ikonik & langgeng, tapi entah mengapa aset gue bertumbuh, pengetahuan gue bertumbuh, kebijaksanan, emosional, empati dan semacamnya semua bertumbuh makin banyak.
Gak pernah ada yang gue selsai dari semua yang pernah gue jalani.
Ingat saja semua akan mengantarkan kepada suatu hal didepan sana, yang entah bagaimana hal tersebut sangat bergantung dari apa yang kita pikirkan, kerjakan juga yakini. Baik buruk hasil semua bergantung kepada pelakunya, doa, usaha, harapan dan keyakinan yang menjadi pondasi arah masa yang dituju. Menurut gue rasa juga berperan banyak dalam peroses ini, saat ini gue tulis gue sudah effort untuk tidak marah kepada siapa pun. Karena semenjak kejadian penutupan bisnis gue itu, masalahnya makin komplek & kaitanya makin ke lebih banyak orang. Karena itu gue jadi sering banget merasakan emosi marah. Padahal dalam banyak hal kita diminta untuk tenang & damai, karena dengan sikap itu dapat memproleh keputsan strategis.
Andim H. Muazhim (13/04/26)
Terimakasih sudah membaca & menikmati sampai selesai. Semoga terhibur & bermanfaat. Dukung Kami untuk terus berkarya klik di sini ya >>> https://saweria.co/andimhabib Kamu juga boleh kritik, saran, cacian, makian, kontak kolaborasi dll. Semoga berkenan, Good luck & sampai jumpa.
Penulis Andim H. Muazhim
Terimakasih sudah membaca tulisan yang sederhana ini. Masih terus belajar dalam banyak hal jadi sering banget nulis karena kepala sumpek dipenuhi gagasan yang bertabrakan. Sebelumnya menulis dengan pena di kertas yang dikenal dengan diary. Kini saya alihkan di media publik, maksudnya biar bisa lebih bermanfaat. Tapi nyatanya baru segini aja kemampuannya.

Saat ini belum ada komentar