Mulai dari Review Film, Press Con. Film Sampai Ke Main Film
- account_circle Andim H. Muazhim
- calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
- visibility 4

Sudah lama juga ya ternyata tidak nulis disini, barusan terakhir dicek sudah sebulan lebih aja. Dua pekan yang lalu di IG gue juga baru update setelah 2 bualan vakum. Sebenernya bukan lelah atau mau menghilang lagi dari dunia maya, lebih ke dunia nyata sedang tidak bisa ditinggal. Pada kesempatan kali ini gue mau update dari yang telah gue lalui kemarin itu. Jadi terakhir gue nulis sebelum ini adalah pada awal bulan mei, tapi di website media. Disana gue bertugas untuk meliput press conference film Shaka oh Shaka. Sejujurnya ini adalah pekerjaan yang keren menurut gue, tapi sayangnya posisi gue hanya volunteer yang cuma dapet “besek” dari acara tersebut. Dari media tidak ada fee sama sekali akomodasi pun tidak di ganti. Jadi saat ada kesibukan lain ya gue akan kalahin tugas pres con. Itu, se-manusiawi itu lah gue.
Sembari mengerjakan kesibukan baru, 1 bulan belakang ini gue pun mereview semua kegiatan yang telah gue lakukan selama 2026 ini. Terkhusus menulis PressCon film, karena menurut gue itu yang paling berat. Selain tidak ada untungnya disisi finansial gue juga perlu seharian full untuk nulis agar memproleh hasil yang baik menurut gue. Total gue perlu 2 hari minimal, 1 hari hadir di presscon seharian lagi untuk nulisnya. Bahkan gue bisa ngabisin 3 harian proses karena perosesnya gue sambi dengan kegiatan lain. Menurut gue nulis presscon itu gue perlu riset dulu pemain-pemainnya, sutradaranya, penulisnya, produsernya, PH dan lain sebaginya. Bagi gue itu melelahkan banget, mungkin bagi yang sudah pro dan hafal dengan pemain, PH dan semua materi presscon film bisa menganggap ini kegiatan yang mudah. Namun ada satu lagi yang melelahkan menurut gue, tulisan liputan film mesti menutupi kekurangan dari film yang kita liput. Itu memerlukan energi yang sangat-sangat banyak. Kalau urusan ini yakin gue banyak yang sependapat dengan gue.
Press Con. film itu bertujuan untuk promosi atau rekomendasi langsung dari sebuah film oleh karenanya mesti tulis yang baik-baik berserta nilai-nilai kelebihannya, walau hanya sedikit. Itungannya jadi bohong kalau memang filmnya kurang atau kurang banget makanya itu jadi berat. Tugas tersebut itu gue dapat dari temen, yang tau bahwa gue suka nonton film dan nulis review-nya. Awalnya gue ambil, karena pikir gue lumayan lah buat ngisi kegiatan harian, toh belakangan ini gue juga lagi banyak “Day Off” -nya. tapi kesini nya kenapa gue mulu yang tugas. Kalau ada fee-nya sih pasti gue ambil dengan semangat, ini mah gak ada, kan jadi males ya. Yaudah akhirnya gue sebulan ini tidak menghadiri press con film sampai dikeluarin dari grup kontributor. Gue ungkapin ini bukan karena sakit hati, cuma mengungkapkan fakta dengan hasrat kemanusiawian.
Disaat bersamaan gue pun juga jadi mempertanyakan, kenapa gue mesti nulis review film ? Padahal dulu tuh cuma nonton-nonton aja, kalau filmnya seru nonton lagi dan ngajak temen. Emang sih nulis review film tuh gue butuhin untuk kebutuhan dari mengisi website ini. Karena di awal banget gue gak tau mesti nulis apa untuk mengisi konten website ini. Tapi setelah mengambil rehat sejenak dan gue mencoba untuk nonton aja tanpa ada beban review, gue merasa lebih menikmati filmnya. Walau tetep ada rasa kecewa jika film yang ditonton kelewat parah jeleknya. Seperti saat gue sedang nulis ini gue baru saja nonton 2 film dengan satu tema, yakni tumbal. Film yang pertama judulnya Tumbal Proyek dan Film kedua Sekawan Limo, gunung klawih. Menurut gue yang garapan Bayu Skak bagus, tapi film yang di bintangi anaknya Pasha Unggu asli ancur banget berasa jadi tumbal kita sebagai penonton.
Baiklah, memang film itu ada yang bagus dan ada yang buruk ada juga film yang biasa aja ditengah aja kualitasnya. Tak bisa dipungkiri setelah nonton atau menikmati apa pun hal umumnya kita sebagai manusia akan mendiskusikannya. Menceritakan hal-hal yang menjadi menari untuk kita atau pun sebaliknya. Bahkan menjadi lumrah sejak dahulu sekali, kita saling merekomendasikan apa yang telah kita nikmati atau pun sebaliknya. Kalau gak enak pasti kita akan menahan kerabat kita dengan bilang “mending gak usah dah kata gue, gak enak/gak seru.” Yang pada akhirnya belakangan ini menjadi sebuah profesi. Gue juga pengen mempunyai profesi demikian, karena itu artinya kita dibayar untuk ngomong. Namun celakanya sekarang banyak yang dibayar untuk merekomendasikan produk buruk dengan mengangkat kebaikannya walau cuma sedikit. Hal-hal yang demikian yang membuat gue ragu untuk menerima bayaran dalam mereview, press con film dengan besek “dapur solo” beda gue nulisnya banyakan baiknya.
Disaat gue menarik diri untuk rehat dari kesibukan perfilman gue, datanglah tawaran untuk main film. Kaget adalah reaksi pertama banget yang gue ekspresikan, tanpa pikir panjang di sodorkan tanggal gue jawab free gue bisa ikut shooting. Jujur untuk yang ini gue gak mikirin fee, gue cuma mikirin portofolio. Kalau beneran gue jadi diajak shooting artinya porto main film gue nambah lagi, kemudian kalau proyek ini gue di bayar artinya gue telah “pecah telur” atau menetas.
Yang kurang paham dengan istilah pecah telur, rencananya gue akan buat IG Reel-nya di akun @AndimHabib cek ya Guy’s.
Bener saja di proyek tersebut gue dapet Fee, dah gitu langsung di TF H+1 setelah selesai atau talent release “udah kayak pemain utama aja ya, bahasanya.” Gue seneng banget saat menyelesaikan tulisan ini, full semuanya udah dikasihkan. Emang gak seberapa peran gue didalam film tersebut, istilahnya tuh Figuran atau extras. Mainnya juga rame-rame karena kami jadi warga yang menggeruduk rumah pembuat onar. Gue juga gak tau akan berapa detik wajah gue mengisi layar, atau bahkan malah gak ada wajah hanya pundak, kaki, atau tangan gue aja. Untuk urusan itu memang gue gak bisa berharap banyak. Ini pengalaman pertama gue, gue banyak belajar disana karena sempat kena “semprot” juga sama sutradaranya. Setelah kena semprot gue jadi musuh bersama dikalangan extras yang baru-baru. Peristiwa tersebut sangat menggembleng mental gue.
Gue menganggap kejadian tersebut adalah hal yang wajar, namanya kerja keliru kan lumrah ya apalagi pengalaman pertama. Gue mengendapkan kejadian tersebut untuk jadi pembelajaran yang menempel bagi gue dan gue akan menulis review nya serta bahan “eval” dengan coach akting sahabat gue. Main film pertama ini gue anggap langkah awal dari karir gue yang baru, suatu profesi yang ada bayarannya. Tak dapat dipungkiri kita semua punya yang namanya biaya hidup, terlebih jika ada gerbong / keluarga. Sungguh pecah telur itu perjalanan panjang, tidak sesingkat di judul yang bergaya motivator. Panjang, lama juga melelahkan dalam perjalanan gue sempet kelelahan bahkan hampir menyerah. Betul memang gue baru balik lagi di ekosistem kreatif ini, tapi sungguh pertama kali gue masuk ekosistem ini sudah jauh dibelakang.
Andim H. Muazhim (22/06/26)
Terimakasih sudah membaca & menikmati sampai selesai. Semoga terhibur & bermanfaat. Dukung Kami untuk terus berkarya klik di sini ya >>> https://saweria.co/andimhabib Kamu juga boleh kritik, saran, cacian, makian, kontak kolaborasi dll. Semoga berkenan, Good luck & sampai jumpa.
Penulis Andim H. Muazhim
Terimakasih sudah membaca tulisan yang sederhana ini. Masih terus belajar dalam banyak hal jadi sering banget nulis karena kepala sumpek dipenuhi gagasan yang bertabrakan. Sebelumnya menulis dengan pena di kertas yang dikenal dengan diary. Kini saya alihkan di media publik, maksudnya biar bisa lebih bermanfaat. Tapi nyatanya baru segini aja kemampuannya.

Saat ini belum ada komentar