Makna Film Pangku – Sartika Adalah Kita
- account_circle Andim H. Muazhim
- calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
- visibility 17

Sartika Itu Kamu atau Aku ?
Jujur senang rasanya mendengar kabar film Pangku kembali naik layar di bioskop, memberi kesempatan kedua bagi yang belum nonton sekaligus menjadi penuntas rindu bagi mereka yang sudah merasakan emosi Sartika. Hati ini senang sekaligus bingung selesai usai menonton film Pangku. Seakan tuh ada pertanyaan “ ini film gak ada dialog ya di 30 menit awal ?” untuk menjawab pertanyaan itu sampai kirim DM ke akun official IG-nya. Walaupun di awal tanpa dialog sebenarnya sangat bisa dipahami ceritanya, jika menikmati filmnya. Tapi kalo bener 30 awal ada dialognya, rencana kedepan akan menonton ulang lagi.
Ini tidak sedang menulis resensi film ya, karena pengalaman kemarin nonton film pangku belum tuntas. Jadi diputuskan untuk menulis suatu hal yang berkaitan dengan film-nya dan kondisi yang saat ini (saat menulis ini) sedang dialami. Situasi yang sama walau tidak percis. Tulisan ini akan masuk ke bagian/rubrik kisah. Cerita ini akan menjadi pembuka dari rubrik tersebut, semoga tepat menjadi yang mengawali. Selayaknya kisah di rubrik ini mungkin akan bergaya seperti bahasa tutur. Jadi akan banyak kata sapaan, gue, elu, kita, bapak, ibu, istri, temen-temen dan semacamnya. Semoga berkenan dan selamat menikmati.
Sartika Puspita merupakan karakter penggerak cerita dalam film pangku. Kemudian dalam kisah kehidupan yang kita punya pengerak ceritanya adalah kita. Semua situasi yang kita alami, perpindah lokasi, pergantian emosi dan lainya semua kita yang ngejalanin semua kita yang memerankan. Film Pangku berkisah tentang situasi yang sangat sulit untuk ditolak, dirubah apalagi diterima. Tapi hal yang paling memungkinkan dilakukan adalah menerimanya. Gak mungkin bisa menolaknya, kemudian pergi selamanya. Jikalau itu dilakukan maka akan merugikan orang lain yang amat dicintai. Tubuh yang lemah ini, tubuh yang lemas ini harus menjadi kuat untuk menerima suatu hal yang sangat berat, menahannya & menjadi beban dalam setiap langkah.
Mungkin, para komentator akan bilang “ya lo tolol, memilih pilihan itu. Hidup itu pilihan” yang ngomong seperti itu adalah ia yang jauh dari situasi ini. Dan gue juga pernah kekeh pegang prinsip tersebut, hidup itu pilihan. Tapi kini gue sadar gak semua orang bisa memilih hidupnya, bukan berarti dia menyerah. Perjuangannya hanya perlahan, mungkin ia tidak akan pernah sampai dengan apa yang ia perjuangkan. Ia hanya bisa berharap pada generasi yang melanjutkannya untuk mendapati situasi yang lebih baik yang ia perjuangkan.
Seperti hari ini, gue kesal karena gue nonton tapi dialognya tidak terdengar oleh gue. Gimana kalau itu bukan kesalahan teknis, tapi gua aja yang gak bisa dengar dialognya karena gue nge-blank menyaksikan situasi yang sama dengan yang sedang gua alami. Gue setengah hari cuma scroll IG sambil nunggu balesan DM dari akun Official Film Pangku. Merasa membuang waktu tanpa arti gue tadi tuh, gila gitu loh. Padahal gue sadar, tapi gue gak bisa lepas seakan gue gak berdaya meninggalkan kegiatan itu. Padahal gue bisa produktif bisa beres-beres apa gitu, atau gue bisa mulai menulis ini.
Semenjak peristiwa itu datang, gue menerima dengan sadar kemudian gue mengerti dengan apa yang terjadi pada hidup ini. Sekarang gue yakin ada suatu hal, atau mungkin banyak hal yang gak bisa kita pilih dalam hidup ini. Kita hanya dipaksa hanya menerima baik itu kisah sukses atau pun kisa sedih. Banyak kisah sukses yang gue tau, ketika pelakunya ditanya tips atau tutorialnya atau bagaimana caranya, pertanyaan itu seringnya di jawab dengan ragu. Karena mereka melakukan apa yang memungkinkan mereka lakukan, bahkan saat itu mereka tidak berencana untuk sukses.
Bisakah Kita Melawan ?
Kini gue ada di situasi buruk nan sedih, kalau gue cerita faktanya kemungkinan besar lo akan bilang gue tolol. Kemudian lo akan tanya, “ngapain lo ngelakuin hal itu ?” kal lo bisa pilih kegiatan yang lain. Lo mau tau, gue juga gak tau kenapa gue melakukan itu. Yang gue tau, yang gue lakukan adalah baik adalah benar menurut sudut pandang gue saat itu. Makanya gue melakukan dengan yakin tanpa berprasangka apa-pun. Tapi justru reaksi yang timbul dari hal yang gue lakukan adalah reaksi yang tidak terbendung. Bahkan gue bisa bilang, “kok dia jadi jahat banget ya ngelakuin ini ke gue.” Hebat lo dia berani mempertaruhkan reputasi-nya, citranya juga masa depannya.
Gue bukan sedang menyudutkan, tapi kalau memang mau dipikir panjang ya akan seperti itu. Walau kita gak pernah tau masa depan itu seperti apa nantinya, tapi setidaknya kita mampu menjaga perasaan kita. Gue paham betul, marah, kesal, kecewa merupakan hal yang wajar dilakukan oleh kita sebagai manusia. Bahkan itu adalah sifat dasar manusiawi, mau gak mau suka gak suka kita mesti menerima itu. Tapi tindakan selanjutnyalah (setelah marah) yang bisa mengkategorikan kita sebagai orang baik atau sebaliknya.

Film pangku berlatar kondisi marjinal di kehidupan lingkungan diskotik ilegal. Para supir truk berperan menjadi harapan menyambung hidup hari esok oleh perempuan “lokasari”. Mungkin gue bukan berada percis disana, gue bukan Lelaki hidung belang itu, gue juga bukan penjajah sex, kemudian gue juga tidak dibesarkan oleh orang tua tunggal dan gue juga bukan orang tua yang tak berdaya menerima keadaannya. Dari kisah film Pangku yang sama dengan kita (baca: gue) adalah situasi dimana kita tidak bisa benar-benar memilih atas kondisi yang kita alami dalam hidup ini. Diperparah dengan gak bisa ditolak, kita hanya bisa menerima kondisi yang bisa dibilang gak enak. Bahkan gue pernah berada di kondisi yang bikin gue selalu mempertanyakan kasih sayang dan keputusan tuhan, semua yang gue rasakan hanya ketidak adilan.
Berat banget gue jalanin ini, 2 bulan ini yang terberat gue rasa. Akhir tahun kemarin masih ada harapan yang tergantung, hingga gue bisa pergi menghindar untuk tidak memikirkan masalahnya. Sampai 1 bulan di awal tahun 2026 ini, gue berangsur sadar harapan itu ternyata malah menjadikan gue terombang-ambing. Gue tidak terdampar-terdampar gue masih dipaksa untuk bingung memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Percaya sama gue kondisi terombang-ambing itu buruk, gak enak banget kepala terasa berat. Kepala pun ikutan pusing bahkan mengganggu keputusan-keputusan kognitif, seperti stress rasanya.
Setiap film menyajikan konflik, begitupun dalam kehidupan. Banyak sekali kita berjumpa dengan konflik. Bahkan ada yang menganggap hidup itu adalah masalah/konflik, jika memang tidak ingin memiliki masalah ya itu artinya kita tidak memiliki kehidupan. Saat gue menyelesaikan menulis ini ( 09/02/26 ) gue telah menyelesaikan 1 masalah gue. Kemarin lusa gue nonton Film Pangku lagi, dan gue mendengar suara dialog dari awal hingga akhir. Jadi bisa lah kedepan menulis resensi film pangku.
Begitulah perjalanan kehidupan jika dianalogikan. Satu masalah selesai pindah ke masalah selanjutnya. Semua masalah mempunyai penyelesaiannya masing-masing, mungkin yang membedakan ialah hanya kecepatan atau ketepatan. Kehidupan akan terus berjalan tanpa mempedulikanmu yang sedang terdiam. Dalam perjalanan tidaklah lah selalu maju, jika mungkin memang perlu mundur, lakukan saja. Bahkan jika jatuh itu adalah penyelamatmu maka rasakan perihnya tersungkur dengan hikmat & sadar. Jadikan dinamika kehidupan menjadi kenikmatan yang terasa indah saat kau ceritakan dihari depan nanti.
Demikian, Catatan Kisah
Andim H.M. (09/02/26)
Penulis Andim H. Muazhim
Terimakasih sudah membaca tulisan yang sederhana ini. Masih terus belajar dalam banyak hal jadi sering banget nulis karena kepala sumpek dipenuhi gagasan yang bertabrakan. Sebelumnya menulis dengan pena di kertas yang dikenal dengan diary. Kini saya alihkan di media publik, maksudnya biar bisa lebih bermanfaat. Tapi nyatanya baru segini aja kemampuannya.

Saat ini belum ada komentar