Jumat, 4 Sep 2026
Beranda » Gue » Kehidupan Orang Biasa
Gue

Kehidupan Orang Biasa

  • account_circle Andim H. Muazhim
  • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
  • visibility 68

Kehidupan Orang Biasa.

Kemarin tuh ada konten masuk FYP dan gue menyaksikan beberapa konten yang setopik dengan itu. Disana mempertanyakan mengapa biaya ke dokter kesehatan/kecantikan itu mahal. Katanya, alasan utamanya ialah karena dokter banyak mengorbankan waktunya sebelum ia bisa “menjual diri” layanan juga produknya. Bahkan ada yang menghitung setidaknya butuh 10 tahun lagi setelah S1 bagi dokter untuk memproleh posisi itu. Mengorbankan masa muda untuk kuliah, ujian, magang dan yang semisal gak seperti kebanyakan orang biasa, khususnya gue.

Dulu gue tuh gak ada niatan untuk kuliah, karena dulu lulusan SMK. Pikir gue lulus sekolah langsung kerja aja, toh ijazah SMK laku kerasa jadi buruh saat itu. Tapi orang tua gue mendorong untuk kuliah, sebagai anak yang tidak kurang ajar jadi gue ikutin permintaan orang tua itu. Kuliah lah gue, cari tau lah prihal jurusan & fakultas. Setelah diskusi dengan teman-teman yang kuliah, gue masuk fakultas komunikasi di Unniversitas swasta terkemuka saat itu, tidak untuk saat ini.

Gilanya gue kuliah 6 tahun, kayak sekolah SD. Bukan karena gue struggling dalam pemahaman & pembelajaran, tapi karena saat itu sambil cari uang juga. Gue pun lulus dengan IPK yang lumayan, setelah kami menutup bisnis creative studio dan fokus skripsi. Selesai dinyatakan lulus & wisudaan gak terlalu kagetlah lah kami, karena biasa cari uang. Saat itu inginya sih lanjutin bisnis creative studio tapi ternyata tidak memungkinkan, alhasil kita bisnis sendiri-sendiri. Karena gue dan partner gue itu sambil kerja kantoran saat itu.

Lo tau, tahun ini (2026) udah 10 tahun lebih dari gue diwisuda & gue liat konten yang diatas itu. Jadi gue pikir sekarang ini setaralah gue sama dokter. Karena gue juga di 10 tahun kebelakang, fokus bisnis. Ada kali 10 bisnis yang udah sukses gue buka. Bahkan lengkap, sukses gue tutup juga bisnis tersebut. Ke ilmuan, perjuangan, strategi, semangat, pola dan lainya bisa gue bacanya, tapi apa pengalaman gue dihargai. Tentu tidak, percaya atau gak banyak dari kita yang hanya menghargai sukses story. Kemudian diperparah makna suksesnya hanya banyak uang & kaya raya. Korilasi sukses kan gak cuma itu, kenapa dipersempit.

Padahal nih ya, kalo dibandingkan sama dokter yang baru kelar perjuangan “belajarnya” di 10 tahun itu, sama tau. Apa doketer tersebut menjamin selalu berhasil tindakannya ? kagak kan. Yang ada malah dokter minta persetujuan pasien & keluarga dalam perjanjian kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Enak dokter mah, konsulasi ni tarifnya lima ratus rebu bahkan jutaan. Padahal ngobrol doang gitu, gak ampe 2 jam. Mending nonton XXI-kan mapuluh rebu bisa dapet waktu 2 jam an. Kata gue sih outputnya sama, kelar ngobrol sama dokter happy beres nonton juga happy. Tapi baiklah, gue sepakat itu gak sebanding.

Tapi kalau ama gue gimana, bisakah gue jadi konsultan bisnis berbekal dari pengalaman bisnis gue. Apa orang lain akan mengakui ke ilmuan gue yang tanpa sukses story. Entahlah gue juga belum tau, tapi gue meragukannya. Padahal nih kalau kata gue, dari pengalaman “kegagalan” bisnis gue jadi punya rambu-rambu. Gue bisa liat arah jalan bisnis yang sedang jalan, apakah perjalananya sudah sesuai dengan tujuan atau malah salah jalan. Bahkan nih, jika ada yang mau “menghancurkan” pondasi bisnisnya gue tau banget jalannya, tentu tindakan tersebut untuk mengganti pondasi baru yang lebih sesuai untuk saat ini.

Ilmu kedokteran dan ilmu bisnis gue rasa itu sama-sama ilmu sosial. Yang dimana keilmuan tersebut tidak bisa berhenti untuk dipelajari. Perhatikan aja dokter, dia masih baca buku, ikut seminar bahkan mengajar & menjadi nara sumber untuk mempertebal pengetahuanya. Ke ilmuan sosial itu dinamis, bahkan dokter yang baik tidak mengklaim kesembuhan itu datangnya dari dia. Begitupun ke ilmuan bisnis gak pernah habis pembahasanya, prilaku konsumen yang selalu berubah, alat produksi yang lebih efektif juga efisien, kebijakan yang mesti disiasati dan semacamnya. Konsultan bisnis pun mestinya bisalah mengklaim, bahwasanya keberhasilan bisnis bukan datang darinya.

Andim H. Muazhim (10/04/26)

Terimakasih sudah membaca & menikmati sampai selesai. Semoga terhibur & bermanfaat. Dukung Kami untuk terus berkarya klik di sini ya >>> https://saweria.co/andimhabib Kamu juga boleh kritik, saran, cacian, makian, kontak kolaborasi dll. Semoga berkenan, Good luck & sampai jumpa.

Penulis

Terimakasih sudah membaca tulisan yang sederhana ini. Masih terus belajar dalam banyak hal jadi sering banget nulis karena kepala sumpek dipenuhi gagasan yang bertabrakan. Sebelumnya menulis dengan pena di kertas yang dikenal dengan diary. Kini saya alihkan di media publik, maksudnya biar bisa lebih bermanfaat. Tapi nyatanya baru segini aja kemampuannya.

Kita Diskusi Yuk (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Have Fun

  • The Best Productivity Tools for Remote Work

    The Best Productivity Tools for Remote Work

    • calendar_month Minggu, 23 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 383
    • 0Komentar

    As the timeline of technology perpetually accelerates, 2023 emerges as a testament to human creativity and ingenuity. The realm of gadgets is no longer restricted to mere utility; it’s about amplifying human potential and redefining boundaries. With each passing day, these handheld marvels become an even more integrated part of our daily lives, intertwining with […]

  • Space Tech: The Latest Innovations Propelling Us to New Frontiers

    Space Tech: The Latest Innovations Propelling Us to New Frontiers

    • calendar_month Selasa, 27 Feb 2024
    • account_circle admin
    • visibility 306
    • 0Komentar

    As the timeline of technology perpetually accelerates, 2023 emerges as a testament to human creativity and ingenuity. The realm of gadgets is no longer restricted to mere utility; it’s about amplifying human potential and redefining boundaries. With each passing day, these handheld marvels become an even more integrated part of our daily lives, intertwining with […]

  • Design Transcended: When Art Meets Technology in Gadgetry

    Design Transcended: When Art Meets Technology in Gadgetry

    • calendar_month Jumat, 2 Feb 2024
    • account_circle admin
    • visibility 298
    • 0Komentar

    Exploring the Tech-Savvy WondersThe delineation between digital and physical continues to blur, weaving a fabric of reality that resonates with the beats of progress. Within this exciting nexus, entrepreneurs and tech aficionados find a fertile ground to cultivate, explore, and thrive. As we navigate through the myriad of gadget-driven narratives, there are key trends and […]

  • Resensi Film Itu

    Resensi Film Itu

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Andim H. Muazhim
    • visibility 52
    • 0Komentar

    Siapa disini yang belum tau mengenai film ? Saya sih ragu, kalau ada yang masih masih belum tau. Walaupun diksi tersebut mempunyai makna yang berbeda di setiap konteksnya, tapi saling beriringan. Jadi untuk melengkapi kewajiban definisi, saya akan menjelaskan arti dari kata film. Menurut kamus besar, kata film diartikan sebagai benda selaput tipis yang dibuat […]

  • Resesi adalah (dalam pengertian)

    Resesi adalah (dalam pengertian)

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Andim H. Muazhim
    • visibility 15
    • 0Komentar

    Rasanya banyak yang belum familiar dengan istilah resensi, awalnya saya pun janggal ketika membaca kata resensi. Padahal kegiatan tersebut sering sekali saya lakukan dewasa ini, zaman dimana tersedia ruang untuk memberikan resensi. Secara sederhana resensi dimaknai sebagai ulasan, bayangkan saja setiap kali selesai kita belanja online disediakan ruang untuk menulis ulasan. Tapi sayangnya, sebagian besar […]

  • Apa itu resensi buku

    Apa itu resensi buku

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Andim H. Muazhim
    • visibility 52
    • 0Komentar

    Buku adalah teman dikala sendiri, begitulah ungkapan yang sering terlontar pada seorang yang suka baca buku. Bagi saya buku adalah jendela dunia, seperti kata pepatah kuno. Walau kurang kreatif tapi itu benar, dari buku yang dibaca kita seakan melihat dari jendela. Istilah kerennya tuh, terbangun theater of mind dikepala pembaca. Saya sadar bahwa saya termasuk […]

expand_less