Film Suka Duka Tawa – Benci tapi merindukannya
- account_circle Andim H. Muazhim
- calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
- visibility 28

Benci Tapi Merindukannya.
Film yang mengangkat kondisi keseharian komika ( seniman stand up komedi ) yang kesal dengan orang tuanya. Tawa (Rachel Amanda) adalah anak dari seorang pelawak profesional Pak Keset (Teuku Rifnu Wikana) dimana mereka berdua memilih karir sebagai komedian. Pak Keset merupakan pelawak populer yang memiliki serial TV, sementara Tawa merupakan komika yang baru merintis. Film yang disutradarai oleh Aco Tenriyagelli (@acotenri) yang mengisahkan getirnya kehidupan keluarga pelawak.
Situasi yang diangkat ialah pelawak kekinian yang dikenal dengan komika & stand up comedy-nya. Stand up Comedy merupakan salah satu cabang komedi yang hanya dimainkan dengan seorang saja. Dimana seorang komika menjadikan opininya objek tertawaan dan sering kali materinya dekat sekali dengan kehidupannya. Disini Tawa mengangkat kisah bapaknya untuk menjadi materi stand up comedy yang mengantarkannya mendapatkan golden tiket audisi bergengsi. Awalnya Tawa menjadi pramuniaga untuk memenuhi kehidupanya, kemudian dipecat dan menjadi pengganguran.
Cerita ini sangat dekat sekali dengan realita para komika di komunitas standupindo. Diawali dengan memberanikan diri untuk open mic di acara rutin komunitas, sampai materi tersebut solid & lucu. Pada saat open mic tak jarang para komika membawakan materi yang sangat dekat dengan kehidupannya, begitupun Tawa. Memberanikan diri untuk menceritakan kisah bapaknya dan menyatakan dirinya sebagai yatim pasif. Kemudian memperoleh tawa penonton hingga viral di medsos karena materinya dinilai lucu oleh founder (Pandji Pragiwaksono).

Di tengah perjuangan mengejar impian menjadi komika nasional melalui jalur kompetisi bergengsi, Tawa menemukan kembali makna hidup yang baru. Di mana sebelumnya ia tinggal hanya berdua saja dengan ibunya, karena bapaknya pergi meninggalkan rumah sejak dia kecil di usia 5 tahunan. Tanpa kabar, tanpa nafkah & tanpa kasih sayang, itulah yang mendasari kekesalan Tawa. Sementara Tawa dibesarkan oleh Ibu yang sangat membenci Bapak dari anak semata wayang itu. Kisah bapak Keset merupakan materi stand up comedy yang menjadikan Tawa malah semakin mengenal Bapak-nya.
Setiap manggung Tawa membawa materi Bapak Keset, sampai akhirnya Tawa memberanikan diri untuk menemui bapaknya. Dengan alasan meluaskan materi komedinya, Tawa mengikuti saran teman-teman. Menerima bapaknya, menjumpainya hingga memberanikan diri untuk berdiskusi lebih dalam dengan bapaknya. Pada suatu hari Tawa memasuki tempat tinggal bapak Keset dan sampailah di ruangan/kamar yang dibuat khusus untuknya oleh bapak Keset. Secara naluriah seorang anak perempuan menemui cinta pertamanya maka sekejap rasa kesal berubah menjadi rasa haru. Kini rasa yang memenuhi hati Tawa adalah cinta & kasih sayang kepada bapaknya.
Saat kenyamanan datang untuk menghilangkan kegelisahan, di saat bersamaan itulah Tawa menjadi tidak bergairah lagi untuk melawak. Saat diatas panggung audisi, Tawa tidak dapat mengeluarkan materinya seolah membisu hanya satu kata yang keluar dari mulutnya. Rispek menjadi satu kata yang keluar dikala pikiran Tawa kalut memikirkan kondisi Ibunya.
Film suka duka tawa disajikan dengan sinematografi yang bagus. Kekuatan dari film ini adalah ceritanya yang dibalut dengan backsound yang sangat menyentuh. Hingga menjadi tepat dari tagline filmnya, kadang tawa paling keras datang dari luka paling dalam. Andai angin mengulang sebuah masa yang telah usang, kan ku telan isi bumi hanya untuk mu, ya begitulah reff nya.
Kata Gue Mah, Film Suka Duka Tawa Tuh . . .
Gue nonton film ini tgl 13-Jan-2026, entah mengapa saat gue tulis ini (22/01/26) sudah turun layar. Perolehan tiketnya pun tak sampai seratus ribu menurut, cinepoint. Entah masalahnya dimana, tapi menurut gue cerita dari film ini bagus. Mungkin balutannya saja yang kurang tepat, hingga penonton mengira ini beneran film full komedi yang bakalan lucu banget. Tapi ternyata yang paling menonjol adalah kisah sedihnya.
Premis yang gue tangkap dari cerita ini ialah, konflik keluarga. Dimana anak perempuan bermasalah dengan bapaknya kemudian ia juga bermasalah dengan Ibunya. Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan bertahan hidup di balik puncak karir bapaknya. Menciptakan rasa kebencian yang sangat mendalam juga dibarengi dengan kerinduan yang sangat mendasar. Begitu sih gue menangkap gagasan dasar ide cerita film suka duka tawa.
Tawa sebagai penggerak cerita menjadi karakter yang “harusnya gak gitu” menurut gue. Maksudnya dia kan kerja di toko nih, ngapain ngedumel depan pelanggan. Di part ini yang membuat gue janggal atau tidak familiar dengan situasi tersebut. Walaupun dalam karakter Tawa memiliki latar belakang yang didominasi opini kebencian Ibunya, tapi kan mestinya tidak menjadi anak yang se-konyol itu. Saat itulah penonton menjadi tidak tertarik apalagi simpatik dengan karakter Tawa. Kasarnya tuh “Pantes aja lo ngangur, Kelakuan lo kayak gitu.” Begitu sih.

Kemudian di bagian show lawaknya bapak Keset sangat kaku sekali, kayaknya bisa deh dibuat sehalus sketsa lapor pak atau semacamnya. Bisa jadi ini menjadi salah satu faktor turunnya minat menonton ulang & merekomendasikannya. Unsur komedi di panggung open mic nya malah joke “B Aja” yang harusnya adanya di adegan aja. Mungkin itu yang menjadikan keluar dari ekspektasi penonton, gak ada kata pecah sih menurut gue.
Dari segi cerita sangat enak untuk dinikmati, karena memang nuansanya drama. Pembelajarannya pun juga sangat dapet, perjalanan perintis yang dibarengi dengan menuruni puncak karir bapak Keset. Dari begitu banyak pesan moral yang tersaji, menurut gue kulminasi ada di bagian akhir. Mungkin dalam hidup kita hanya bisa memperjuangkan satu dari keinginan kita. Karena Tawa menjadikan juara audisi menjadi hal sepele dikala disandingkan dengan keluarga.
Demikian,
Andim H.M – 22/01/26

Penulis Andim H. Muazhim
Terimakasih sudah membaca tulisan yang sederhana ini. Masih terus belajar dalam banyak hal jadi sering banget nulis karena kepala sumpek dipenuhi gagasan yang bertabrakan. Sebelumnya menulis dengan pena di kertas yang dikenal dengan diary. Kini saya alihkan di media publik, maksudnya biar bisa lebih bermanfaat. Tapi nyatanya baru segini aja kemampuannya.

Saat ini belum ada komentar