Gimana Kalau Cuma Beruntung ?
- account_circle Andim H. Muazhim
- calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
- visibility 5

Gimana kalau Cuma Beruntung ?
Banyak hal yang telah terjadi selama menjalani kehidupan ini. Baik atau pun buruk semua pernah gue alami. Dapet gaji pertama, pecah telur/orderan pertama dari berbagai bisnis, dapet teman, parner, sahabat, pasangan dan begitupun sebaliknya. Uang habis, jobless gak ada penghasilan, Produk rusak/basi jadi gak laku dijual, mitra bisnis cabut dan hingga hal buruk yang memunculkan keinginan “kayaknya mending mati deh gue.” Ada hari dimana seakan semuanya mudah, semisal belum ngucap nih tapi udah di iya-in. Pernah juga ada hari yang rasanya tuh ngagetin banget, seperti mau memegang sesuatu tapi ternyata belum kepegang akhirnya meleset dan jatuh.
Pristiwa dihari-hari tersebut populer dengan istilah beruntung dan sial. Gue juga gak paham, kapan persisnya konsep itu (untung & sial) mulai populer dipergunakan. Mungkin hidup tuh hanya di antara ke beruntungan & ke sialan, jadi sebagai kehidupan kita hanya bisa menunggu keputusan yang akan diproleh. Apa benar seperti itu ? padahalkan mah wajar aja ya, kadang seakan urusan itu mudah hingga mudah banget. Kadang juga urusan itu sulit bahkan sangat sulit dan bikin nyerah. Karena masa depan itu mistreri, semuanya tentang ketidak pastian yang membingungkan. Ada yang bilang semua sudah suratan tapi ada juga nasihat berusahalah untuk dijadikan lebih baik. Gue rasa kedua maksud (pemahaman) dari kedua kalimat itu tak akan pernah selesai sampai hari-hari didunia ini selesai.
Suatu hari gue pernah menanggapi permasalahan dengan kalimat, ” Ya itu cuma beruntung aja.” dan kalimat tersebut gue balut dengan rasa sinis dan iri. Seolah usaha yang dilakukan sebelumnya gak ada artinya, keberhasilah yang diprolehnya hanya dari keberuntungan. Lawan bicara gue saat itu sampai keheranan dengan tanggapan gue itu, dengan penegasan ” gila lo, perjungan dia kan lo tau.” Benar aslinya gue tau, mestinya gue kagum dengan usahanya, perjuangannya. Disi lain gue memang benar-benar iri, gue juga mau sampai sana, mau juga mendapatkan apa yang didapatkan. Herannya gue gak bisa melakukan usaha yang dia lakukan, perjuangan dia saat itu hanya bisa gue semangati dengan skeptis. Tapi saat dia mendapatkanya, gue bilang dia beruntung, emang gila gue ini.
Gue jadi penasaran beruntung itu sebenarnya apa ya? kalau di kamus definisinya begini, hal-hal membahagiakan yang diproleh dari tuhan (nasib). Boleh dibilang beruntung adalah mendapatkan hasil tanpa usaha yang berarti. Kalau memang begitu sinis saat orang lain memproleh kebahagian menjadi hal yang paling mudah dilakukan. Karena dengan begitu sama saja menganggap tuhan gak adil, dia dapat & semtara gue gak. Padahal banyak yang bilang tuhan itu maha adil, yang gue pahami adil adalah sama rata. Bisa jadi pemahaman gue keliru, tapi dalam hukum manusia adil dipahami dengan sama berat, tidak berat sebelah (seimbang), tidak memihak atau pilih kasih.
Yang paling gue sadari konsep beruntung itu sangat amat membingungkan. Sebagai mahluk tuhan, gue menganggap gue beruntung, begitupun mahluk tuhan lainya. Selagi kebahagiaan yang dirasakan itu artinya keberuntungan bagi gue. Tapi dunia saat ini sudah kebanyakan orangnya, arti kebahagian juga jadi samar-sama sekarang ini. Ada yang menganggap mendapat hal “ini” bahagia, disisi lain ada yang anggap hal tersebut biasa saja. Bahkan gue nih baru bisa bahagia setelah target gue tercapai dan gue merasa sangat kecewa saat keinginan gue tidak tercapai. Saat kecewa mau marah ke siapa juga bingung, saat bahagia mau bilang/berbagi malah takut menyingung lainya. Mestinya kalau kecewa dan harus marah, ya marah sama diri sendiri aja, karena itu satu-satunya hal yang bisa dilakukan. Dikala senang juga, berbagi aja dengan diri sendiri dulu, dengan cara bayar hutang/cicilan setau gue itu juga bentuk dari syukur.
Seakan hidup itu seperti memahat diri, gue pernah salah gue juga pernah benar. Semua jadi pengalaman dan pemahaman yang sangat berarti buat gue. Bukan berarti gue tau tentang masa depan. Gue juga gak bisa menemukan ideal model dalam hidup. Saat ini gue hidup lebih kepada menikmati apa yang bisa gue nikmati. Jika tidak ada yang bisa dinikmati gue akan bersabar, berusaha juga berprasangka baik. Keberuntungan adalah target bagi gue saat ini, karena bagi gue yang bisa dikendalikan adalah berprosesnya, berusaha, bersabar, menikmati dan bersyukur.
Andim H. Muazhim (22/04/26)
Terimakasih sudah membaca & menikmati sampai selesai. Semoga terhibur & bermanfaat. Dukung Kami untuk terus berkarya klik di sini ya >>> https://saweria.co/andimhabib Kamu juga boleh kritik, saran, cacian, makian, kontak kolaborasi dll. Semoga berkenan, Good luck & sampai jumpa.
Penulis Andim H. Muazhim
Terimakasih sudah membaca tulisan yang sederhana ini. Masih terus belajar dalam banyak hal jadi sering banget nulis karena kepala sumpek dipenuhi gagasan yang bertabrakan. Sebelumnya menulis dengan pena di kertas yang dikenal dengan diary. Kini saya alihkan di media publik, maksudnya biar bisa lebih bermanfaat. Tapi nyatanya baru segini aja kemampuannya.

Saat ini belum ada komentar