Katanya, Semua Kita Terancam ?
- account_circle Andim H. Muazhim
- calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
- visibility 10

Katanya, Semua Kita Terancam ?
Suatu hari gue lagi jalan sendirian, saat itu belum terlalu sore sekitar jam setengah tigaan. Saat gue jalan entah kenapa gue pengen banget nengok kebelakang, tanpa ragu ya gue nengok aja. Ternyata gak ada orang dan gak ada apa-apa juga, gue masih berjalan sendirian ditempat itu. Tapi rasanya dipemikiran gue seakan ada yang membuntuti, tapi setiap gue tengok gak ada orang. Sangking takutnya nih, gue sampe gak berani nengok. Karena gue kawatir saat gue nengok langsung dihajar. Menurut gue rasa-rasa seperti itu sangat menggangu.
Sebenarnya gak ada barang berharga yang gue bawa saat itu, cuma bawa barang harian aja. Gue cuma bawa HP, Leptop, alat tulis dan pernak-pernik yang umum aja. Tapi kok gue merasa khawatir ya, padahal hari sebelumnya gak ada berita apa pun disana. Setelah beberapa kali kejadian tersebut gue alami hingga gue ngeh dan berkata gue kenapa ya ? gue memutuskan untuk mencari tau apa penyebabnya. Sambil bengong gue merenung, malah jadi menemukan hal-hal yang janggal. Gue menduga gue takut dihajar (“mati”) karena ada beberapa yang masih gue tunda untuk gue kejakan. Banyak masalah yang belum gue selesaikan, padahal bisa gue beresin karena masalah itu sepele.
Setelah perenungan itu gue mulai beresin hal-hal yang gue tunda. Setelah selesai nih, walau nyatanya tidak pernah selesai karena permasalahan baru juga bermunculan. Gue jadi gak tau dengan pasti, Kenapa gue menunda beresin itu semua. Yang gue rasa, gue cuma mau dipentingin, gue cuma mau di utamain, direspons direspek dihormati diperhitungkan atau dengan kata lain egois. Dipikiran gue semua yang ada tuh hanya pelengkap, bisa gue cari penggantinya. Gue yang utama, gak ada gue gak akan jalan, semua butuh sama gue, gue, gue dan gue. Saat gue sadar, saat itu gue seperti ngalahin tuhan. Kemudian gue rasa itu yang membuat gue sering merasa terancam dan ditikam dari belakang.
Gue kasih tau, ngelepasin ego tuh tidak mudah. Setidaknya itu yang gue rasakan, kini gue sedang memperbaiki diri gue. Sedang gue tinggalkan semua ego yang pernah ada. Gue mulai mempertanyakan lagi gue ini siapa, gue mulai cari tau lagi hal-hal yang bisa terjadi tanpa kendali gue. Membayangkan apa jadinya dunia tanpa gue, siapa yang merasa kehilangan, berapa lama mereka akan merasa kehilangan, siapa yang masih mengingat gue, apa kesan yang gue tinggalkan. Semua pertanyaan gila yang bisa melemaskan dengkul gue, lucunya gak kejawab tuh pertanyaan-pertanyaan itu.
Aslinya gue kurang paham kapan mulanya gue jadi punya banyak kenginginan untuk menang. Apa karena dulu pernah gue denger menjadi ambisius itu bagus, punya impian tinggi tuh baik dan dengan alasan juga analoginya. Hingga gue jadi arogan seegois itu, kepentingan gue diatas segalanya. Kini gue paham kenapa pada keyakinan religius yang gue yakini, tidak disarankan untuk berangan-angan (bermimpi). Karena semua teori & analogi tentang mimpi/angan yang tinggi/ pencapaian impian semuanya hanya omong kosong. Mana buktinya, mimpilah setinggi langit setidaknya kalo jatuh bisa dibintang. Percaya deh, saat jatuh gak ada yang nolong & peduli sama sekali, bahkan bintang sekali pun akan menghindar.
Andim H. Muazhim (18/04/26)
Terimakasih sudah membaca & menikmati sampai selesai. Semoga terhibur & bermanfaat. Dukung Kami untuk terus berkarya klik di sini ya >>> https://saweria.co/andimhabib Kamu juga boleh kritik, saran, cacian, makian, kontak kolaborasi dll. Semoga berkenan, Good luck & sampai jumpa.
Penulis Andim H. Muazhim
Terimakasih sudah membaca tulisan yang sederhana ini. Masih terus belajar dalam banyak hal jadi sering banget nulis karena kepala sumpek dipenuhi gagasan yang bertabrakan. Sebelumnya menulis dengan pena di kertas yang dikenal dengan diary. Kini saya alihkan di media publik, maksudnya biar bisa lebih bermanfaat. Tapi nyatanya baru segini aja kemampuannya.

Saat ini belum ada komentar