Minggu, 6 Sep 2026
Beranda » Film » Film Esok Tanpa Ibu – Sci Fi Indonesia Pertama di 2026

Film Esok Tanpa Ibu – Sci Fi Indonesia Pertama di 2026

  • account_circle Andim H. Muazhim
  • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
  • visibility 34

Sci-Fi Pertama Indonesia di 2026

Film Esok Tanpa Ibu memiliki cerita yang sangat kekinian, bahkan cenderung masih masa depan jika latarnya itu di Indonesia. Menceritakan kisah remaja laki-laki yang mulai bertumbuh menjadi dewasa. Selayaknya remaja, Rama (Ali Fikry) mulai mengedepankan argumenya. Yang mengakibatkan tidak sejalan dengan Ayahnya (Ringgo Agus Rahman). Rama menganggap Ayahnya selalu marah dengannya, karena itu Rama lebih dekat dengan Ibunya (Dian Sastrowardoyo). Rama belum lama tinggal di rumah barunya, yang berlokasi di kaki gunung. Tempat tinggal yang asri dengan pemandangan dedaunan sejauh mata memandang.

Orang tua Rama adalah penggiat IT & lingkungan. Bahkan Ibu Rama sedang memimpin mega proyek lingkungan, suaminya sangat mendukung. Ditengah menyelesaikan proyek tersebut Ibu Rama mengalami masa kritis dan koma. Rama & Ayahnya sangat terpukul dengan kejadian tersebut. Sehingga Rama ingin sekali menolong ibunya dengan bantuan AI (Artificial Intelligence) yang di rancang oleh temannya. Setelah AI tersebut disesuaikan lebih lanjut, Rama berhasil menggerakan tangan ibunya yang sudah lama terdiam. Secercah harapan bagi Rama hingga ia memutuskan untuk mengupgrade lagi AI buatan temannya itu.

Dikala Ibunya terbaring di rumah sakit, Rama & Ayahnya berusaha beradaptasi juga mengakrabkan diri. Namun yang terjadi masih saja ketegangan. Rama bersikeras dengan argumennya sementara Ayah masih menganggapnya anak kecil. Rama memilih untuk membangkang dan memperjuangkan argumennya. Sampai pada satu situasi Rama mengetahui kondisi Ibunya yang sebenarnya. Ketika Rama & Ayahnya sedang telekonferens dengan kakek-neneknya.

Setelah peristiwa itu Rama bertambah marah dengan Ayahnya, Semakin menganggap Ayahnya beda dengan Ibu. Di Tengah kondisi kelut, ada Kabar dari rumah sakit yang membuat mereka mendatangi Ibu dengan tergesa-gesa. Ibu Rama sedang dalam kondisi yang sangat kritis, dan ketika Rama sampai tepat saat suara tiit panjang itu berbunyi. Terdengar suara dokter “catat jam kematiannya.” Pecahlah tangis Rama & Ayahnya diujung pintu itu. Kini tinggalah Rama & Ayahnya saja tinggal dirumah yang penuh dengan kenangan dengan Ibunya.

Hah, Sci-Fi ? AI ? Mana ?

Poster dari Film Esok Tanpa Ibu bagus banget menurut gue, hanya memuat  3 wajah saja dan itu menurut gue pas banget. Visualisasi poster pun juga mudah untuk ditangkap, tergambar hanya Ibu-nya Rama yang menggenggam juga bertabur bunga. Hingga mempertebal dari judul filmnya, Esok Tanpa Ibu. Selain itu 3 wajah tersebut juga memancarkan emosi yang berbeda, tentu yang paling manis (hangat) wajahnya Dian Sastrowardoyo, Ali Fikry dengan senyum sinis & Ringgo Agus memancarkan ketegasan sosok ayah.

Gue nonton Film Esok Tanpa Ibu pada tanggal 23 jan 26, hari kedua dari tanggal rilis perdananya. Gue selesaikan tulisan ini pada tanggal 28 Jan 26 6 hari setelah tanggal rilis, tiket yang terjual 134.122 menurut cinepoint. Belum bisa disimpulkan film ini laris atau tidak, semestinya laris karena film ini sangat bertabur bintang. Ada Dian Sastro & Ringgo Agus yang sudah sangat populer di industri ini. Bisa lah sejuta aja mah ni film, kita nantikan sampai akhir nanti ya.

Premis yang gue tangkep dari film ini adalah konflik remaja dengan ortunya. Film esok tanpa ibu mengangkat permasalah umum yang ada di tengah masyarakat. Sehingga dari segi cerita menurut gue sangat enak dinikmati, karena gue dah melewati masa remaja itu jadi “kayanya semua remaja mesti kayak gitu deh.” Ya walaupun di ujung pasti menyesal. Tapi gimana ya, sudut pandang anak remaja tuh beda, berbanding terbalik deh sama PoV nya ortu. Karena remaja itu sedang ingin-ingin nya merasakan / mencoba. Sementara orang tua senengnya tuh membatasi, bilangnya karena kasih sayang tapi nyatanya terlalu khawatir.

Cimot / Rama sebagai penggerak cerita berhasil membawa penonton “khususnya gue” menikmati masa remaja yang polos. Gak peduli dengan ortu adalah hal yang remaja banget menurut gue. Tapi ya gitu sebego-begonya bocah, sedih juga kalau ditinggalin. Apalagi ortu, pasti gak enak banget, dalam cerita 6 bulan cimot belum bisa move on dari ibu-nya. Berbagai cara dilakukan untuk mengobati kerinduannya juga memuaskan hasratnya yang masih belum semua diungkapkan ke ibu.

Tapi ada satu hal yang membuat gue bingung dengan karakter Cimot. Beres nonton film itu langsung muncul tuh pertanyaan, Cimot SMA atau SMP ya ? Kalau dibilang SMA gak deh kayaknya, karena cimot marahnya masih “cengeng”. Kalau dibilang anak SMP tapi temen sekelasnya sudah bisa bawa mobil & udah mau bikin SIM. Jadi ngebingungin ya, malah ngeringkung lagi di ujung jembatan.

Keseluruhan keren banget ni Film, terlebih di Ibu Laras “gila muda banget” mestinya kan lebih keibuan look-nya. Gue sedikit berharap film ini akan jadi film sci-fi yang spektakuler. Entah ini salahnya dimana, tapi di promosinya Film Esok Tanpa Ibu sering banget ngomong AI ( Kecerdasan Buatan ) untuk merangsang kesembuhan ibunya. Malahan di awal scene iklan smartwatch-nya sangat memukau, gue mah nunggu yang lainya eh ternyata hanya itu saja.

Film Esok tanpa ibu disajikan dengan sinematografi bagus banget, kecuali di lokasi jembatan. Selain bertabur bintang cerita dari film ini sangat relate dengan kehidupan keseharian penonton. Pilihan playlist Ost sangat menyatu dengan kisah dari Cimot & Orang tuanya. Banyak dari penonton yang merasakan efek dari bawangnya hingga air mata mengalir deras. Gue pun merasakan emosi sedihnya, kecuali dengan bapak ( @Ringgoagus ) bagi gue dia kocak jadi bertumpuk gitu rasanya.

Demikian,

Andim H.M – 28/01/26

Penulis

Terimakasih sudah membaca tulisan yang sederhana ini. Masih terus belajar dalam banyak hal jadi sering banget nulis karena kepala sumpek dipenuhi gagasan yang bertabrakan. Sebelumnya menulis dengan pena di kertas yang dikenal dengan diary. Kini saya alihkan di media publik, maksudnya biar bisa lebih bermanfaat. Tapi nyatanya baru segini aja kemampuannya.

Kita Diskusi Yuk (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Have Fun

  • Will Cristiano Ronaldo Play Tonight in Al-Nassr vs Al-Ettifaq Saudi Pro League 2024-25 Match? 12.39 Play Button

    Will Cristiano Ronaldo Play Tonight in Al-Nassr vs Al-Ettifaq Saudi Pro League 2024-25 Match?

    • calendar_month Minggu, 23 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 61
    • 0Komentar

    Al Nassr failed to win major title with Cristiano Ronaldo in the squad. The Portuguese superstar has been incredible in front of the goal and led the league in goals scored in both his full seasons. Currently the side at the third position in the Saudi Pro League 2024-25 standings, with just 14 games remaining. […]

  • Design Transcended: When Art Meets Technology in Gadgetry

    Design Transcended: When Art Meets Technology in Gadgetry

    • calendar_month Jumat, 2 Feb 2024
    • account_circle admin
    • visibility 298
    • 0Komentar

    Exploring the Tech-Savvy WondersThe delineation between digital and physical continues to blur, weaving a fabric of reality that resonates with the beats of progress. Within this exciting nexus, entrepreneurs and tech aficionados find a fertile ground to cultivate, explore, and thrive. As we navigate through the myriad of gadget-driven narratives, there are key trends and […]

  • The Future of Mixed Reality: Blending the Virtual and the Real 2.10 Play Button

    The Future of Mixed Reality: Blending the Virtual and the Real

    • calendar_month Selasa, 28 Jan 2025
    • account_circle Lili Cheng
    • visibility 954
    • 0Komentar

    At Microsoft Ignite 2023, we are announcing Copilot in Microsoft Dynamics 365 Guides, which combines the power of generative AI with mixed reality to help frontline workers complete complex tasks and resolve issues faster with less disruption to the flow of work. Copilot in Dynamics 365 Guides assists workers in industrial settings who deal with complex […]

  • Luka Doncic’s 32-point night helps Lakers finally win in Denver

    Luka Doncic’s 32-point night helps Lakers finally win in Denver

    • calendar_month Rabu, 15 Jan 2025
    • account_circle Dave McMenamin
    • visibility 65
    • 0Komentar

    DENVER — It took Luka Doncic only one quarter Saturday to match his highest scoring output from his first three games with the Los Angeles Lakers, tallying 16 points while L.A. built an early lead on the Denver Nuggets. He kept rolling from there — and so did the Lakers — as Doncic finished with a game-high 32 points […]

  • Unlikely Origins: The Humble Beginnings of Today’s Tech Titans

    Unlikely Origins: The Humble Beginnings of Today’s Tech Titans

    • calendar_month Minggu, 25 Feb 2024
    • account_circle admin
    • visibility 847
    • 0Komentar

    Exploring the Tech-Savvy WondersThe delineation between digital and physical continues to blur, weaving a fabric of reality that resonates with the beats of progress. Within this exciting nexus, entrepreneurs and tech aficionados find a fertile ground to cultivate, explore, and thrive. As we navigate through the myriad of gadget-driven narratives, there are key trends and […]

  • Apa itu resensi buku

    Apa itu resensi buku

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Andim H. Muazhim
    • visibility 54
    • 0Komentar

    Buku adalah teman dikala sendiri, begitulah ungkapan yang sering terlontar pada seorang yang suka baca buku. Bagi saya buku adalah jendela dunia, seperti kata pepatah kuno. Walau kurang kreatif tapi itu benar, dari buku yang dibaca kita seakan melihat dari jendela. Istilah kerennya tuh, terbangun theater of mind dikepala pembaca. Saya sadar bahwa saya termasuk […]

expand_less